Tumbuh Itu Menyakitkan

last year

FB_IMG_1561187073397.jpg

Tengah malam di restoran cepat saji bandara, berteman kentang goreng, saya berusaha tetap terjaga untuk membuat skrip sesi fasilitasi daring (on line). Jadi teringat, dua puluh tahun dulu di masjid sekolah, saya gemetar saat dapat giliran latihan ceramah selepas magrib. Setelah fasilitasi tatap muka menjadi kegiatan biasa, malam ini saya kembali gentar saat menyiapkan latihan fasilitasi secara daring dalam Bahasa Inggris untuk peserta yang tersebar di dua benua.

Belajar memang berarti berjuang mengatasi keengganan dan ketakutan. Tumbuh melibatkan rasa sakit. Agar terus berkembang, kita harus bersedia mendorong titik terakhir kemampuan kita. Hal yang sering terasa menyiksa, seperti atlet angkat besi yang terus berusaha mengangkat beban lebih berat dari hari kemarin, seperti pelari yang terus lari lebih cepat, seperti pelompat yang melampaui rintangan lebih tinggi. Otot terasa sakit, tapi itu yang membuat mereka semakin kuat, cepat, dan tinggi.

Kalau mungkin, rasanya ingin bertahan di zona nyaman, melakukan hal yang telah biasa dilakukan, tapi akankah tetap bertahan jika dunia terus berubah? Bukankah salah satu kebijakan milenium lalu adalah bahwa yang bertahan bukanlah yang terbesar, tapi yang paling sesuai? Survival of the fittest. Mungkin rasa sakit dan gentar adalah sesuatu yang perlu disyukuri bahwa kita masih terus berkembang, sedikit lebih dari kondisi kita kemarin.

Menjelang kantuk, tetiba saya teringat ustadz saat di pesantren yang sering mengutip Imam Syafii, "Man lam yadzuq murra al-ta’allumi sa’ah // tajarra’a dzulla al-jahl thula hayatih - Siapa yang tidak pernah menanggung pahitnya belajar walau sesaat harus bersedia menanggung getirnya ketidakmampuan sepanjang hidupnya.” Mari belajar lagi!

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE WEKU!